Tragedi Berulang di Habitat Predator Evakuasi Korban Terkaman Buaya di Sungai Sangkuranai

19 Januari 2026
SARIF HIDAYATULLAH, S.P
Dibaca 19 Kali
Tragedi Berulang di Habitat Predator Evakuasi Korban Terkaman Buaya di Sungai Sangkuranai

 

DESA KERANG PASER, KALIMANTAN TIMUR – Keheningan Desa Kerang, Kecamatan Batu Engau, kembali pecah oleh duka. Peristiwa tragis yang menimpa Muhammad Helmi (36) menjadi pengingat pahit bahwa Sungai Sangkuranai, yang merupakan anak Sungai Tabru, tetap menjadi wilayah zona merah bagi aktivitas manusia. Penemuan bagian tubuh korban pada Senin pagi (19/1/2026) mengonfirmasi keganasan predator yang menghuni aliran sungai tersebut, sebuah insiden yang seolah menjadi siklus tahunan yang tak kunjung terputus.

Upaya pencarian intensif yang dilakukan oleh tim gabungan akhirnya membuahkan titik terang, meski dalam suasana duka mendalam. Jasad Muhammad Helmi ditemukan dalam kondisi tidak utuh pada pukul 07.00 WITA, berjarak sekitar 200 meter dari lokasi awal korban dilaporkan hilang diterkam.

Kapolsek Batu Engau, AKP Hadi Purwanto, mengonfirmasi bahwa penemuan pertama kali dilaporkan oleh Rubandi, Ketua RT setempat yang turut membantu proses penyisiran. "Bagian tubuh korban yang ditemukan saat ini berupa badan, sementara anggota tubuh lainnya termasuk kepala, tangan, dan kaki masih dalam proses pencarian lebih lanjut," jelas AKP Hadi.

Operasi SAR ini melibatkan sinergi berbagai unsur, di antaranya:

  • Personel Polsek Batu Engau
  • BPBD (BNPB) Kabupaten Paser
  • Basarnas Unit Paser
  • Relawan dan Masyarakat Desa Kerang

Pencarian telah dimulai sejak Minggu sore (18/1/2026) sesaat setelah laporan masuk. Namun, kendala medan dan visibilitas membuat tim harus menghentikan operasi pada pukul 21.00 WITA sebelum dilanjutkan kembali pada Senin pagi saat air surut.

Sungai Sangkuranai bukanlah aliran air biasa. Sebagai anak sungai dari Sungai Tabru, wilayah ini secara ekologis merupakan habitat utama bagi buaya muara Karakteristik air yang tenang namun dalam, serta rimbunnya vegetasi di pinggiran sungai, memberikan ruang kamuflase sempurna bagi predator puncak ini.

Masyarakat lokal mengenal Sungai Tabru dan anak-anak sungainya sebagai "kerajaan buaya". Ironisnya, ketergantungan warga terhadap sungai untuk mencari nafkah—seperti menjala udang atau memancing—membuat interaksi antara manusia dan buaya sulit dihindari. Peristiwa yang menimpa Helmi bukanlah kejadian pertama; hampir setiap tahun, tercatat laporan serangan buaya di wilayah hukum Kabupaten Paser, khususnya di jalur aliran sungai yang terhubung ke pesisir.

Setelah berhasil dievakuasi, bagian tubuh korban dibawa ke rumah orang tua di RT 005 Desa Petangis. Pihak kepolisian telah berkoordinasi dengan keluarga terkait prosedur hukum dan medis.

"Pihak keluarga telah menyatakan secara resmi bahwa mereka menolak dilakukan otopsi maupun visum. Mereka menerima kejadian ini sebagai musibah murni," tambah AKP Hadi Purwanto. Jenazah korban telah dimakamkan di Pemakaman Umum Desa Petangis pada pukul 11.30 WITA, diiringi isak tangis kerabat yang tidak menyangka aktivitas rutin menjala udang akan berakhir tragis.

Meskipun sebagian jasad telah dimakamkan, Tim SAR gabungan dari Basarnas dan BPBD tidak menghentikan operasi. Fokus pencarian kini bergeser pada penyisiran radius 500 meter hingga 1 kilometer dari lokasi penemuan awal untuk mencari sisa anggota tubuh korban yang masih hilang.

Tragedi ini menjadi alarm keras bagi Pemerintah Kabupaten Paser dan instansi terkait seperti BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam). Ketiadaan papan peringatan yang memadai dan minimnya edukasi mengenai perilaku satwa predator di sepanjang aliran Sungai Sangkuranai dinilai menjadi faktor pendukung tingginya angka kecelakaan.

Polsek Batu Engau mengeluarkan himbauan tegas bagi seluruh warga:

"Kami meminta warga untuk sangat berhati-hati. Kalimantan Timur, khususnya wilayah aliran sungai di Paser, adalah habitat alami buaya. Jika tidak mendesak, hindari aktivitas di dalam air, terutama pada malam hari atau saat kondisi air pasang," tegas AKP Hadi.

Langkah Strategis yang Diperlukan:

  • Pemetaan Zona Bahaya: Mengidentifikasi titik-titik sering munculnya buaya untuk dipasangi rambu peringatan permanen.
  • Relokasi Predator: Koordinasi dengan BKSDA untuk melakukan evakuasi satwa jika sudah terlalu dekat dengan pemukiman warga.
  • Edukasi Masyarakat: Memberikan pemahaman tentang pola perilaku buaya agar warga tahu kapan waktu paling berbahaya untuk turun ke sungai.

Kematian Muhammad Helmi menambah daftar panjang korban konflik antara manusia dan satwa di Kalimantan Timur. Selama keseimbangan ekosistem terganggu dan mitigasi hanya bersifat reaktif, Sungai Sangkuranai akan tetap menjadi ancaman nyata bagi mereka yang menggantungkan hidup di tepiannya.

Kini, tim gabungan masih berjibaku dengan arus sungai dan risiko serangan susulan demi menuntaskan pencarian bagian tubuh korban. Harapannya, tragedi ini menjadi yang terakhir, meski sejarah mencatat bahwa tanpa langkah konkret, sungai ini akan terus meminta tumbal di tahun-tahun mendatang.

editor Komunitas Informasi Masyarakat (KIM)